Detail

Tahun: 2013
No Sertifikat: 204762/MPK.F/DO/2013
Nama Karya Budaya: Pinisi
Provinsi: Sulawesi Selatan
Domain: Pengetahuan dan Kebiasaan Perilaku Mengenai Alam dan Semesta
Kembali

Kapal Pinisi, identik dengan suku Bugis-Makassar. Hal ini dikarenakan kapal layar tersebut banyak digunakan orang-orang Bugis-Makassar untuk mengarungi samudera sejak tahun 1500-an. Tidak hanya dalam pelayaran di wilayah Nusantara untuk menangkap ikan, tapi Pinisi juga terbukti tangguh dalam pelayaran ke berbagai negara di belahan dunia, khususnya di masa perdagangan rempah-rempah.

Dalam proses pembuatan kapal Pinisi, dilakukan secara bertahap dan berkesinambungan, dengan berbagai ritual yang melambangkan makna tertentu. Pembuatan pinisi dilakukan pada galangan kapal yang disebut bantilang, yang umumnya dibuat oleh masyarakat Bulukumba, dengan melibatkan puluhan orang. Mereka terdiri dari punggawa (tukang ahli), sawi (tukang-tukang lain yang membantu punggawa), serta calon-calon sawi.

Pembuatan kapal Pinisi diawali dengan pencarian dan penebangan pohon yang akan dijadikan bahan membuat kapal. Namun sebelumnya, para pengrajin harus menghitung hari baik untuk memulai pencarian kayu, yang biasanya jatuh pada hari ke lima dan ke tujuh bulan berjalan. Angka lima diartikan bahwa rejeki sudah di tangan (naparilimai dalle’na), sementara angka tujuh bermakna selalu mendapatkan rejeki (natujuangngi dalle’na).

Setelah menentukan hari baik, maka dilakukan penebangan pohon untuk bahan baku kapal Pinisi. Pohon yang digunakan adalah pohon welengreng (dewata) yang terkenal kuat dan tahan air. Dalam penebangan pohon, pengrajin melakukan ritual potong ayam sebagai tumbal yang dipersembahkan kepada roh penghuni pohon tersebut. Pohon yang telah ditebang tersebut kemudian dikeringkan.

Proses pembuatan kapal Pinisi selanjutnya adalah peletakan lunas, yang juga disertai ritual khusus. Lunas harus menghadap Timur Laut ketika dipotong. Balok lunas bagian depan melambangkan laki-laki dan balok lunas bagian belakang melambangkan perempuan. Sebelum pemotongan, diawali dengan pembacaan mantra. Selanjutnya dipotong sesuai dengan tanda pahatan. Pemotongan ini dilakukan oleh orang-orang kuat, sebab kayu yang digergaji harus dilakukan sekaligus tanpa berhenti.

Bila balok bagian depan sudah putus, maka hasil potongan itu segera dibuang ke laut sebagai penolak bala dan symbol bahwa seorang suami harus siap melaut untuk mencari nafkah. Sementara potongan balok lunas bagian belakang disimpan di dalam rumah, yang diibaratkan sebagai istri sang pelaut yang setia menunggu kedatangan suaminya pulang. Tak kalah penting, ujung lunas yang sudah terpotong tidak boleh menyentuh tanah.

Selanjutnya, dilakukan pemasangan papan pengapit lunas yang disertai upacara “kalebiseang”. Untuk menguatkan lunas yang terpasang, dilakukan ritual “anjerekki”. Kemudian, penyusunan papan yang dilakukan dari ukuran lebar yang terkecil sampai ke atas dengan ukuran terlebar. Setelah semua papan tersusun, dilanjutkan dengan pemasangan buritan sebagai tempat kemudi bawah. Jumlah seluruh papan alas kapal Pinisi sebanyak 126 lembar.

Setelah badan kapal selesai dikerjakan, maka dilanjutkan dengan memasukkan majun pada sela papan. Tahapan ini dikenal dengan nama “a’panisi”. Agar sambungan antarpapan melekat kuat, dipilih bahan perekat dari kulit pohon barruk, kemudian didempul (allepa). Bahan allepa ini terbuat dari campuran kapur dan minyak kelapa. Untuk menghaluskan hasil dempulan, dilakukan dengan menggosokkan kulit pepaya.

Setelah tahap-tahapan pengerjaan tersebut selesai, maka kapal Pinisi itu kemudian diapungkan di laut, yang ditandai dengan pemotongan hewan ternak. Untuk kapal berkapasitas 100 ton ke atas, dipotong seekor sapi, sedangkan kapal dengan kapasitas dibawah 100 ton, dipotong seekor kambing. Setelah diapugkan di laut, kapal Pinisi kemudian dipasangkan layar dengan dua tiang. Layar umumnya berjumlah tujuh.

Pada ritual peluncuran kapal Pinisi, punggawa sebagai kepala tukang duduk di sebelah kiri lunas seraya memanjatkan doa yang berbunyi : Bismillahir Rahmanir Rahim BuIu-bulunnako buttaya, patimbonako bosiya, kayunnako mukmamulhakim, laku sareang Nabi Haidir (Artinya: Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Penyayang. Kau adalah bulu-bulunya tanah, tumbuh karena hujan, kayu dari kekayuan dari Mukma-nul Hakim saya percaya Nabi Haidir untuk menjagamu.) peluncuran kapal dilakukan pada waktu air pasang dan matahari sedang naik.

Berbagai rangkaian pembuatan kapal Pinisi tersebut mengandung nilai-nilai budaya dalam kehidupan sehari-hari, yakni kerjasama, kerja keras, ketelitian, keindahan, dan religious. Nilai kerjasama tercermin pada pembagian tugas para pengrajin dengan tanggung jawab masing-masing. Dengan adanya kerjasama yang baik antara mereka, maka pembuatan kapal bisa terwujud.

Nilai kerja keras tercermin pada pencarian dan penebangan pohon welengreng yang tidak mudah didapatkan, serta pada pemotongannya yang tidak boleh berhenti sebelum terpotong dengan menggunakan gergaji manual. Ketelitian tercermin pada pemotongan kayu yang harus tepat, nilai keindahan tampak pada bentuknya yang kuat dan terkesan gagah. Sementara nilai religius tercermin pada pembacaan doa ketika Pinisi akan diluncurkan di laut.