Pencatatan

Perkawinan Adat Lio

Responsive image
Pemberian belis (mas kawin) semakin banyak dan merasa bangga karena namanya akan selalu disebut bahkan disegani oleh masyarakat kelas bawah (Fai Walu Ana Kalo). Pemberian berupa ome mbulu, ome mbulu rua dan ome mbulu telu menjadi hal yang biasa bagi mereka yang hidup pada saat itu. Kerbau, sapi, dan kuda dijadikan sebagai hewan belis, sedangkan babi, kambing dan ayam hanya digunakan sebagai bahan lauk disaat bicara adat. Sistem poligami masih hidup, akibatnya banyak perempuan yang dalam kehidupan perkawinannya selalu tertekan, dianiaya bahkan dijual untuk dijadikan Koo Fai Nggae. Dewasa ini kebiasaan itu telah berangsur ditinggalkan karena dianggap sebagai bentuk tindakan feodal. Yang ada dan berkembang saat ini adalah perkawinan yang terjadi karena cinta, belis tetap diberikan tetapi cinta yang diutamakan. Perubahan ini berkembang setelah agama masuk di daerah Lio. Pada jaman dahulu, anak om kandung dapat dinikahkan sedangkan saat ini, anak om kandung tidak boleh dinikahi karena masih ada hubungan darah. Sama halnya dengan bapak bersaudara dan ibu bersaudara. Sistem perkawinan yang dianut oleh orang Lio adalah patrilinier, dimana anak perempuan mengikuti keluarga laki-laki, sistem ini masih lekat dalam perkawinan dengan orang Lio. Perkawinan adat daerah Lio ada 4 (empat) jenis, yaitu 1. Perkawinan Ana Ale, perkawinan yang didasari atas persetujuan orang tua dan juga sanak yang bersangkutan. Proses perkawinan jenis ini biasanya dilaksanakan melalui tahapan-tahapan yang lengkap, baru masuk pada proses perkawinan. 2. Perkawinan Lari, wanita minggat dari rumah secara diam-diam menuju rumah laki-laki dan biasanya terjadi pada malam hari. Tentunya hanya si wanita dan laki-laki yang mengetahui hal ini karena sebelumnya mereka telah janjian. 3. Perkawinan masuk, laki-laki tinggal di rumah keluarga perempuan dan disana dia diangkat dari nia sama dengan saudara / eja keranya. Di Lio bila ada perkawinan seperti itu, artinya laki-laki tidak punya apa-apa, sehingga dia disini dalam bahasa setempat dikatakan Koo Tebo, boleh juga dikatakan Koo No Tebo, Jongo Noo Lo. Dia dengan tau dan mau menjadi penghuni didalam keluarga perempuan. 4. Perkawinan Paatua , biasanya perkawinan seperti ini terjadi sejak anak masih dalam kandungan ibunya. Orang tua dari kedua calon mempelai telah sepakat untuk menjodohkan dengan anak mereka. Perkawinan adat ini terjadi ketika ada hubungan cinta antara seorang wanita dan seorang laki-laki. Proses perkawinan adat Lio adalah dimulai dari Ruu Tuu, Jagarara atau lebih dikenal dengan masuk minta. Kemudian dilanjutkan dengan Tu Ria / Minu Moke Bai atau antar belis. Lalu dilanjutkan dengan Teke Naja Leka Nia Tua, mencatat nama pada kantor paroki. Setelah itu dilakukan Pai Naja, yaitu pengumuman di mimbar gereja untuk diketahui oleh masyarakat umum tentang perkawinan mereka. Dan yang terakhir adalah proses perkawinan. Bilamana terjadi sesuatu, katakan bertunangan dengan orang lain, maka sejumlah belis yang diantar pada saat Ruu Tuu, Jaga Rara harus dikembalikan sebanyak 2 kali lipat, baik pihak perempuan maupun laki-laki. Ini merupakan satu kesepakatan adat yang terjadi di daerah Lio Kabupaten Ende.
Disetujui Oleh admin WBTB Pada Tanggal 01-01-2010

Pencatatan Pelaku

Pelaku 1

Nama :
?
Alamat :
Kelurahan Mautapaga.
Telp/Fax/HP :
?
Email :
?

Pelapor Karya Budaya

Pelapor 1

Nama :
Peu Yakobus, SH.
Alamat :
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kab. Ende
Telp/Fax/HP :
?
Email :
?
Disetujui Oleh admin WBTB Pada Tanggal 01-01-2010
Disetujui Oleh admin WBTB Pada Tanggal 01-01-2010
   Disetujui Oleh admin WBTB Pada Tanggal 01-01-2010

WBTb yang serupa atau berkaitan

...

Perkawinan Adat Lio

Nusa Tenggara Timur
Pencatatan

© 2018 Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya


Kontak kami

  • Alamat
    Komplek Kemdikbud Gedung E Lt 10,
    Jln. Jenderal Sudirman Senayan Jakarta, 10270.
  • Email: kemdikbud.wbtb@gmail.com
  • Telp: (021) 5725047, 5725564
  • Fax: (021) 5725047