Baselang Nuai

Tahun
2011
Nomor. Registrasi
2011001884
Domain
Adat Istiadat Masyarakat, Ritus, dan Perayaan-Perayaan
Provinsi
Jambi
Responsive image
Upacara Beselang Nuai disebut juga upacara panen padi. Beselang artinya mengerjakan sesuatu pekerjaan secara berama-sama (gotongroyong), sedangkan nuai artinya memotong padi. Jadi beselang nuai adalah kegiatan memotong /panen padi yang dilakukan secara bersama-sama. Kegiatan beselang ini berifat gotong royong dengan tidak memberikan imbalan berupa materi dan dilakanakan secara bergiliran. Beselang ini biasanya dilakukan oleh orang-orang yang sawah/ umo dalam ukuran luas. Bagi orang yang membantu/ yang ikut beselang, hal ini tidak menjadi masalah karena rasa kekeluargaan dan saling membantu. Kebiasaan ini (upacara) telah berlaku dalam kurun waktu yang cukup lama secara turun temurun. Kapan upacara ini dimulai dan siapa yang melaksanakan pertama kalinya, tidak diketahui karena belum ditemukan data tentang hal tersebut. Tetapi yang jelas upacara ini sangat erat sekali hubungannya dengan kepercayaan nenek moyang ( masyarakat masa lalu) yaitu animisme dan dinamisme serta adat istiadat yang berlaku. Penyelenggaraan upacara bertujuan agar semangat padi tidak menjauhi dan tetap betah tinggal bersama si pemilik sawah, agar padi yang telah menguning dan siap untuk dipanen dapat diselesaikan dalam waktu yang tidak terlalu lama, sebagai hiburan bagi bujang dan gadis (acara ini diadakan sekali dalam setahun), memupuk rasa kekeluargaan dan mensyukuri nikmat Tuhan Yang Maha Kuasa, serta ingin berbagi dengan sesama. Upacara dilaksanakan pada waktu panen yaitu beberapa hari sesuai dengan tahapan upacara yaitu menyapo padi, tangkai langkaso, ngumpul bujang dan gadis, memilih tuo bujang dan gadis, kegiatan beselang, acara rampi rampo dan menimpul padi. Sedangkan tempat pelaksanaan ada yang di rumah pemilik sawah dan ada yang di sawah. Adapun pihak-pihak yang terlibat dalam pelakanaan upacara ini adalah pemilik sawah/umo, keluarga dekat pemilik sawah, tuo bujang gadis, para bujang gadis dan masyarakat lainnya. Perlengkapan upacara yang diperlukan antara lain adalah tuai atau ani-ani, beberapa kain panjang, kain pelekat (kain sarung laki-laki) dan kain tengkuluk (selendang ) warna merah, bambu hitam, ambung (tempat padi), tikar, gong, biola, rebana, sabun cuci, ayam, kambing, beras, kelapa, bumbu masak serta peralatan memasak dan alat untuk menumbuk padi. Pelaksanaan Upacara Beselang Nuai melalalui beberapa tahapan. Tahap pertama adalah menyapo padi atau berjabat tangan antara pemilik sawah dengan padinya sebagai ucapan salam pertemuan. Kegiatan ini dilaksanakan tiga hari sebelum upacara beselang dilakanakan, dan jika padi semua sudah menguning. Pagi-pagi sekali mulai matahari terbit, si pemilik sawah suami isteri berangkat ke sawah. Lalu memilih salah satu sudut awah, berdiri sebentar melihat sekeliling padinya kemudian berdoa kepada Tuhan YMK semoga apa yang dipandangnya itu dapat memberi manfaat dan kebahagiaan dalam hidupnya. Sesudah berdoa, dengan rasa gembira sang isteri dengan memakai tengkuluk putih turun ke sawah dengan melangkahkan kaki kanan terlebih dahulu sedangkan suaminya masih tetap di pinggir sawah. Setelah kedua kaki sang isteri menginjakkan kaki di sawah dia berdiri lurus sambil bertauh (berpantun). Selesai bertauh, sang isteri langsung memegang beberapa lembar daun padi dan melurutnya berlahan-lahan sebagai tanda jabat tangan kerinduan. Kemudian diikuti oleh sang suami.. Tahap yang kedua, langkaso (menyanggul padi). Pada tahan ini yang berperan hanya sang isteri saja. Pertama-tama tiga rumpun padi (ternasuk padi pada tahap menyapo padi) disatukan dan diikat dengan tali. Ketiga rumpun padi ini dirapikan seperti sedang membuat sanggul penganten. Ketiga rumpun padi ini disebut induk padi yang mempunyai arti terendiri. Dengan membaca bismilllah, sang isteri mulai menuai padi tiga rumpun tersebut lalu diikat. Padi yang sudah dituai ini di bawa ke pondok oleh sang isteri dengan cara menggendong yang seakan-akan menggendong anak keayangannya. Sampai di bawah pondok diirik (dilepaskan dari tangkainya) dan dimasukkan ke dalam kapuk (tempat menyimpan padi), sedangkan oman (tangkai padi) dipergunaka untuk keperluan tertentu. Kemudian mereka istirahat dan dilanjutkan kembali ke sawah sesudah makan siang lalu menuai padi untuk kebutuhan beselang. Tahap yang ketiga , Ngumpul Bujang Gadis. Dalam pelaksanaan beselang nuai, si pemilik sawah mengundang para bujang dan gadis melalui utusan yang biasanya langsung ditunjuk menjadi tuo bujang gadis. Tuo bujang gadis adalah orang yang sering terlibat dalam upacara dan biasa memimpin upacara beselang. Tuo bujang gadis yang ditunjuk adalah satu tuo bujang dan satu tuo gadis. Kemudian mereka memberi pengarahan kepada para bujang dan gadis dan memperingatkan bahwa apabila ada diantara bujang dan gadis yang melanggar ketentuan akan dihukum. Tahap yang keempat adalah beselang. Sebelum turun ke sawah,bendera yang menandakan upacara beselang akan dilaksanakan dipasang terlebih dahulu di pohon yang tinggi. Bendera tersebut dibuat dari kain panjang dan kain pelekat yang disusun selang seling dan diikat pada sebuah bambu yang sudah disiapkan. Tuo bujang gadis memberi aba-aba agar para bujang dan gadis segera menuju ke pematang sawah dengan membentuk barisan dengan berselang seling. Setelah sampai ke pematang sawah, semua berdiri menghadap ke tengah sawah menunggu aba-aba selanjutnya. Tuo bujang gadis pertama-tama turun ke dalam sawah kemudian memberi aba-aba agar semua turun ke sawah dan mulai menuai padi. Selanjutnya diikuti oleh orang-orang tua baik laki-laki maupun perempuan. Mereka menuai bersama-sama di sawah tersebutu tetapi tempatnya terpisah dengan bujang dan gadis dan tidak ikut bertauh ( berpantun) seperti bujang dan gadis. Tahap selanjutnya adalah Acara Rampi Rampo. Yaitu sesudah baselang, pada malam harinya bujang dan gadis sesuai dengan pasangannya waktu beselang datang ke rumah pemilik sawah untuk bergembira. Ada yang berjoget (menari), berpantun dan bernyanyi. Acara ini dimulai dengan mendengarkan kata sambutan dari tuo bujang dan gadis mengenai tertib cara yang akan dilakanakan. Selesai kata sambutan, secara bergiliran bujang dan gadis mengisi acara dengan tertib. Tuo bujang gadis mengawali dan mengamati dengan cermat semua gerak gerik dan tingkah laku peserta upacara karena sadar akan tanggungjawab yang dipikulnya. Acara berakhir sampai pagi dan acara ini juga merupakan arena mencari jodoh bagi buang dan gadis. Terakhir, tahap menimpul padi, yaitu acara selamatan yang diadakan malam berikutnya. Yang diundang hanyalah kaum lelaki di dusun tersebut dan beberapa orang perempuan yang rumahnya berdekatan. Acara dilakanakan sesudah sholat Maghrib. Setelah para undangan hadir, si pemilik rumah meminta imam mesjid untuk memimpin baca doa, kemudian dilanjutkan dengan makan bersama. Pada waktu acara seleai, tuan rumah berdiri di pintu depan rumah menyalami semua tamu dan mengucapkan terimakasih atas kedatangan dan bantuan mereka dalam pelakanaan semua rangkaian acara dan begitu ju sebaliknya. Dengan demikian, berakhirlah seluruh rangkaian pelaksanaanan upacara. Pada masa sekarang, upacara ini tidak dilaksanakan lagi. Seiring perubahan waktu, perubahan sistem bercocok tanam, cara berfikir masyarakat dan paham keagamaan.

Disetujui Oleh admin WBTB Pada Tanggal 01-01-2011

Pelaku Pencatatan

?

Jl. Raya Sungai Penuh No.3 RT.2 Desa Dusun Baru Siulak Kecamatan Siulak Kabupaten Kerinci

081322625306

?

Iskandar Zakaria

Jl. Kartini 88A Dusun Nek Kel. Dusun Baru Kota Sungai Penuh

081274240641

?

Pelapor Karya Budaya

Dra. Evawarni, M.Ag

Jl. Pramuka No. 7 Tanjungpinang

081364408162

?

Disetujui Oleh admin WBTB Pada Tanggal 01-01-2011
Disetujui Oleh admin WBTB Pada Tanggal 01-01-2011
   Disetujui Oleh admin WBTB Pada Tanggal 01-01-2011

© 2018 Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya


Kontak kami

  • Alamat
    Komplek Kemdikbud Gedung E Lt 10,
    Jln. Jenderal Sudirman Senayan Jakarta, 10270.
  • Email: kemdikbud.wbtb@gmail.com
  • Telp: (021) 5725047, 5725564
  • Fax: (021) 5725047