Makanan Sate Klathak

Tahun
2013
Nomor. Registrasi
2013003701
Domain
Kemahiran dan Kerajinan Tradisional
Provinsi
DI Yogyakarta
Responsive image

Sate Klatak adalah macam makanan khas yang berasal dari Kabupaten Bantul berbahan dasar daging kambing. Dengan spesifikasi tusuk sate terbuat dari besi jeruji sepeda. Cara memasak dengan dibakar dan hanya diberi bumbu garam. Cara penghidangannya setiap porsi atau menu umumnya terdiri dari 2 tusuk sate sampai 4 tusuk. Didampingi penyerta kuah, rasa yang dominan adalah gurih dari aroma daging kambing. Pencetus atau perintis sate klatak adalah Mbah Ambyah berasal dari Jejeran, Desa Wonokromo, Kecamatan Pleret, Kabupaten Bantul. Menu sate ini telah ada sejak mbah Ambyah memulai usahanya pada sekitar tahun 1940an. Realitas menunukkan bahwa keberadaan sate Klatak di Bantul yang dirintis oleh Mbah Ambyah telah mampu memberikan ciri khas tersendiri bagi Kabupaten Bantul serta Daerah Istimewa Yogyakarta. Kalau dahulu Kota Yogyakarta disebut Kota Gudeg, Kota Bakpia maka sebutan itu sekarang bertambah menjadi Kota Sate Klatak.

Keberadaan sate Klatak tidak terlepas dari ide yang memanfaatkan potensi wilayah pada saat itu, ketika usaha pemeliharaan kambing banyak dilakukan oleh masyarakat Jejeran. Menu masakan sate yang sekarang dikenal dengan Sate Klatak, bermula ketika Mbah Ambyah selaku perintis usaha sate di Jejeran, Wonokromo, membuka warung satenya di bawah Pohon Melinjo, yang buahnya disebut dengan „klathak‟. Klathak inilah yang banyak jatuh bersebaran disekitar warung sate Mbah Ambyah, sehingga menu sate tersebut dikenal dengan Sate Klatak

Istilah Sate Klatak berasal dari bunyi yang dihasilkan pada waktu pemanggangan sate. Bunyi “tak…tak…tak” dihasilkan dari percikan garam yang disiramkan ke dalam bara arang yang berada di atas tungku. Tungku haruslah terbuat dari tanah liat karena mampu menyimpan bara api arang lebih lama. Dari asal bunyi inilah kemudian masyarakat mulai mengenal toponim

v

Dusun Jejeran, Desa Wonokromo, Kecamatan Pleret, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta,

Sate Klatak. Secara umum proses pembuatannya tampak mudah, tetapi membutuhkan pengetahuan dan ketrampilan khusus. Mulai dari penyiapan daging dari kambing muda yang hanya mengkonsumsi makanan organik, proses penyembelihan yang tepat dan daging harus dipastikan bersih (daging tidak boleh dicuci, karena akan berpengaruh pada rasa dan tekstur daging), proses pemotongan daging dengan teknik pengirisan daging pada posisi pisau yang statis. Potongan daging yang relatif lebih besar daripada sate biasa, hanya berbumbu garam, selanjutnya ditusukkan pada jeruji besi roda sepeda, dan dibolak balik di atas pembakaran. Penyajian sate Klatak lengkap dengan jerujinya, dengan jumlah tusukan relatif lebih sedikit dari sate biasa (antara 2-4 tusuk) dan disertai dengan kuah santan yang encer pada piring / mangkok terpisah. Sate Klatak juga disajikan dengan teh jawa cap pecut dengan gula batu. Rasa teh yang khas ini menambah cita rasa sate klatak yang asin gurih dan panas.

Berdasarkan keseluruhan proses tersebut, menunjukkan bahwa pembuatan sate Klatak mulai dari pemilihan bahan baku dan pembuatannya harus selektif, tepat dan berkualitas, sehingga mengajarkan kepada masyarakat nilai dan makna tentang kebersihan, ketelitian dan kesederhanaan. Di luar segala jenis masakan sate berbahan dasar daging kambing, sate klathak merupakan ide sederhana tetapi menonjol dan menjadi ciri khas atau identitas kuliner masyarakat diantara keragaman pengolahan sate. Bumbu sate klatak yang hanya menggunakan garam mengajarkan adanya kesederhanaan kehidupan sehari-hari masyarakat Dusun Jejeran.

Sebagai identitas kuliner masyarakat, Sate Klatak di masyarakat asal yakni Dusun Jejeran, Desa Wonorkomo, Kecamatan Pleret ini mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat Jejeran. Sekitar 20 warung sate berjejer di sepanjang Jl Imogiri Timur km 10 Desa Jejeran ini. Pada tiap harinya, untuk ukuran warung yang besar sekitar 5-7 kambing di sembelih untuk ketersediaan menu sate dan jumlah ini akan ditambahkan jika pengunjung yang datang ramai. Sedangkan untuk warung sate skala kecil hingga sedang mampu menyediakan 1-4 kambing pada tiap harinya. Keberadaan kuliner ini mampu menyerap tenaga kerja dari masyarakat Dusun Jejeran dan sekitarnya. Pada tiap warungnya, ada sekitar 4-6 orang warga Jejeran yang mendapatkan pekerjaan karena keberadaan sate klatak.

Selain itu, keberadaan sate klatak juga mendorong aktivitas sosial kemasyarakatan yang ada di Dusun Jejeran. Acara-acara dusun banyak di sponsori oleh para juragan-juragan sate klatak ini. Aktivitas di dalam lingkup organisasi keagamaan masjid seperti majelis seaman, majelis mujahadah, dan majelis lainnya terus terjaga salah satunya oleh dukungan sosial dan material dari para jugaran sate di desa Jejeran.

Fungsi sosial sate klatak juga dapat dilihat dari ruang ruang sosial baru yang tercipta dari adanya warung sate klatak bagi kehidupan masyarakat. Bagi masyarakat sekitar, dapat bermanfaat sebagai satu sarana atau tempat berkumpul dan berelasi dengan masyarakat lain maupun dengan keluarga. Sambil menikmati hidangan sate yang harganya cukup murah dan tempat yang nyaman, masyarakat dapat menggunakan sebagai alternatif untuk mengadakan pertemuan di tempat itu. Selain itu, secara individu, tempat umum termasuk warung sate dapat dimanfaatkan sebagai tempat berkumpul untuk bertukar pikiran maupun berelasi antara satu dengan lainnya. Dengan demikian terjalin satu hubungan sosial di antara masyarakat.

Sate Klatak dibuat dari daging kambing yang dibakar dengan bumbu minimalis, dengan garam dan sedikit kemiri. Irisan dagingnya besar-besar dan dari kambing yang berusia muda. Dagingnya ditusuk dengan jeruji sepeda, bukan dengan bilah bambu, serta dibakar di atas anglo yang dibuat dari tanah, yang dipenuhi dengan bara dari arang kayu. Penggunaan jeruji ini membuat sate klatak matang sampai ke dalam. Rasa daging kambing muda, bumbu yang sederhana dan penggunaan arang kayu menghasilkan cita rasa sate klatak yang khas, yaitu asin dan gurih. Setelah dibakar beberapa saat dan matang, sate klatak disajikan di atas piring, masih dengan tusukan besi jeruji sepeda. Satu porsi sate klatak berisi dua tusuk irisan daging yang cukup besar dan tebal. Meskipun irisan daging cukup besar dan tebal, tetapi rasanya tetap empuk, karena berasal dari kambing muda.


Disetujui Oleh admin WBTB Pada Tanggal 01-01-2013

Pelaku Pencatatan

H. Ahmadi (Penerus dan Pemilik Sate Klatak Jupaini)

Jalan Imogiri Timur Km 10 , Jejeran, Wonokromo, Pleret, Wonokromo II, Wonokromo, Pleret, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta

0

?

Pelapor Karya Budaya

Pantja

Bantul

?

Disetujui Oleh admin WBTB Pada Tanggal 01-01-2013
Disetujui Oleh admin WBTB Pada Tanggal 01-01-2013
   Disetujui Oleh admin WBTB Pada Tanggal 01-01-2013

© 2018 Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya


Kontak kami

  • Alamat
    Komplek Kemdikbud Gedung E Lt 10,
    Jln. Jenderal Sudirman Senayan Jakarta, 10270.
  • Email: kemdikbud.wbtb@gmail.com
  • Telp: (021) 5725047, 5725564
  • Fax: (021) 5725047