Tradisi Khitanan Demak

Tahun
2013
Nomor. Registrasi
2013003752
Domain
Adat Istiadat Masyarakat, Ritus, dan Perayaan-Perayaan
Provinsi
Jawa Tengah
Responsive image
Tradisi khitanan atau sunatan di daerah pesisir Demak, Jawa Tengah merupakan tradisi yang berkaitan dengan memotong sebagian alat kelamin baik putra maupun putri. Tradisi ini sudah dilaksanakan secara turun temurun sejak zaman dulu. Khitan bagi orang muslim hukumnya wajib utamanya anak laki-laki, selain untuk kebersihan alat kelamin itu sendiri juga sebagai wujud pelaksanaan hukum Islam. Bagi orang yang mampu dalam melaksanakan tradisi khitanan akan menggelar berbagai acara untuk memeriahkan acara khitanan. Selain menggelar selamatan yang mengundang sanak saudara dan tetangga, juga mendatangkan kesenian tradisional ataupun modern. Selain itu tak kalah menariknya anak yang di khitan diiring keliling kampung dengan menggunakan kuda tunggangan seperti layaknya panglima perang jaman dahulu. Tradisi ngiring sunat ini bagi warga pesisir selain perwujudan pelaksanaan adat tradisi juga sebagai bentuk rasa syukur kepada yang Maha Kuasa atas limpahan rahmat dan karunia berupa anak laki-laki yang telah beranjak dewasa. Kemeriahan itu akan lebih semarak lagi jika putra laki-lakinya hanya satu-satunya dan dari keluarga cukup mampu, selain mengaraknya dengan naik kuda berkeliling kampung juga dimeriahkan dengan arak-arakan berupa kesenian tradisional seperti barong sai, barongan dan juga drum band. Bahkan pada malam resepsinya kadang-kadang juga masih diramaikan dengan hiburan untuk tamu-tamu yang hadir memberi do?a restu berupa kesenian seperti wayang kulit, kethoprak dan juga pentas musik ndangdhut. Oleh karena itu acara tradisi khitanan ini bagi keluarga yang mampu akan mengeluarkan biaya yang cukup besar untuk memeriahkannya. Namun untuk memeriahkan acara khitanan itu banyak pula yang mendatangkan da?i untuk berceramah agama dalam acara pengajian yang digelar dalam rangka walimatul khitan Sebelum di arak keliling kampung anak yang dikhitankan di dandani ibarat pengantin dengan pakaian yang indah serta gemerlapan, biasanya pakaian yang dikenakan adalah pakaian khas Arab warna putih dengan udeng-udeng di kepala. Tukang rias ini dipanggil khusus yang biasanya merupakan tukang rias pengantin yang memang menyediakan pakaian untuk pengantin pernikahan ataupun pengantin sunat. Adapun kudanya juga di sewa dari tukang delman yang selain untuk menarik penumpang sehari-harinya, di waktu-waktu tertentu di panggil orang untuk mengiring pengantin sunat. Sebelum di arak keliling kampung, pengantin sunat yang telah berpakaian bak panglima perang, dilepas dengan do?a kedua orang tuanya dengan di beri ?sawanan? yaitu uba rampe obat tradisional. Sawan yang ditumbuk halus ini dibubuhkan di sebagian tubuh anak yang bertujuan agar dalam perjalanan hidup anak kelak setelah dikhitankan terhindar dari mara bahaya. Pengantin sunat biasanya setelah dilepas kedua orangtuanya kemudian di bawa berkeliling kampung memasuki gang-gang sempit sebagai perwujudan pengumuman kepada warga. Sesampainya di rumah kepala desa rombongan berhenti dengan menghadapkan si pengantin sunat untuk mohon do?a restu kepada sang kepala desa. Di rumah kepala desa biasa telah dipersiapkan hidangan untuk si pengantin sunat dan juga sekedar kado berupa barang atau uang, setelah selesai maka pengantin sunat diiring keliling kampung lagi untuk pulang ke rumah. .

Disetujui Oleh admin WBTB Pada Tanggal 01-01-2013

Pelaku Pencatatan

?

?

?

?

Pelapor Karya Budaya

Dwi Hastuti

?

?

?

Disetujui Oleh admin WBTB Pada Tanggal 01-01-2013
Disetujui Oleh admin WBTB Pada Tanggal 01-01-2013
   Disetujui Oleh admin WBTB Pada Tanggal 01-01-2013

© 2018 Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya


Kontak kami

  • Alamat
    Komplek Kemdikbud Gedung E Lt 10,
    Jln. Jenderal Sudirman Senayan Jakarta, 10270.
  • Email: kemdikbud.wbtb@gmail.com
  • Telp: (021) 5725047, 5725564
  • Fax: (021) 5725047