Ti'i Langga

Tahun
2020
Nomor Registrasi
202001196
Domain
Kemahiran dan Kerajinan Tradisional
Provinsi
Nusa Tenggara Timur
Responsive image

Ti’ilangga merupakan jenis topitradisional orang Rote yang terbuat dari anyaman daun lontar. Secara etimologis, istilah ti’I langga berasal dari bahasa Rote (dialek Termanu) yang berarti ‘topi’. Istilah ini kemudian di gunakan untuk menyebut jenis topi yang dianyam dari daun lontar (Borassusflabillifer). Menurut cerita lisan orang Rote, ti’ilangga pertama kali ditemukan oleh seorang nelayan bernama Fifino Dulu dari daerah timur pulau. Pada suatu hari, Fifiono Dulu dan anaknya Tua Fifino pergi mengail di Lua Ende do Fua Nafu (salah satu namat empat di nusak Lole). Kemudian mereka menangkap seekor kura-kura dan seekor pari lalu dibawa pulang kerumah. Dalam pertengahan perjalanan pulang, keduanya berhenti sejenak di bahwa sekumpulan pohon lontar untuk melindungi diri dari sengatan terik matahari. Setelah itu, Fifino Dulu melihat daun lontar yang masih utuh dan sempurna dapat membantu melindungi kepala dari terik matahari, maka diambilah daun lontar lalu dibuatlah pelindung kepala. Namun karena dilihatnya kurang baik, maka Tua Fifino mengeluarkan kura-kura dan pari hasil tangkapan mereka dan memberikannya kepada Fifino Dulu untuk membuat pelindung kepala seperti kulit kura-kura dan sayap pari dalam tuturan ha’ituadoonfofelifiinleo kea tana ma so’do don leohailida ‘ambil daun lontar dan anyam seperti cangkang kura-kura dan seperti saya pikan pari’. Kemudian meraka mengambil topiter sebut dan menaruhnya di kepala sebagai pelindung (ti’i) kepala (langga).

Sejak zaman dahulu, ti’I langga hanya memiliki dua jenis yaitu jenis ikan pari dan jenis kura-kura, namun dalam perkembangannya hamper setiap kerajaan atau nusak di pulau Rote memiliki jenis ti’ilangga  yang berbeda-beda. Beberapa jenis ti’ilangga yang dikenal yaitu ti’ilangga do sela (jenistopi yang berdaun kasar), ti’ilangga do lutu (jenis topi yang berdaun halus), ti’ilanggaa’angguk (jenis topi dengan daun panjang yang menonjol), ti’I langga bebelak (jenis topi yang berbentuk rata pada bagian atas), ti’I langga bu’uhak (jenis topi yang berbentuk persegi), ti’I langga bu’ukoak (jenis topi dengan ujung belakangnya berbentuk bulu ayam), ti’I langga pisak (jenis topi dengan daun kasar yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari), dan ti’ilangga musu (jenis topi dengan daun tegak yang hanya dipakai saat perang).

Ti’ilangga terbuat dari daun lontar yang masih muda dengan tahap-tahap yang sangat rumit. 1) daun lontar yang masih muda dipotong dari atas pohon dan dijemur sampai kering; 2) daun tersebut kemudian dibelah dalam ukuran yang sama menggunakan kakadak (mal yang terbuat dari lidi lontar); 3) setelah itu, dilakukan proses anyaman dimulai dari bagia badan ti’ilangga;   4) anyaman dilanjutkan dengan pembuatan pet depan ti’I langga; 5) selanjutnya dilakukan pelipatan untuk membentuk lekukan pada bagian dalam ti’ilangga; 6) setelah itu, pada setiap sudut badan ti’ilangga disisipkan daun-daun untuk membentuk pinggiran ti’ilangga; 7) daun-daun ti’ilangga yang dibentuk kemudian disusun dengan dilingkari lidi lontar sebanyak tiga lingkaran; 8) tahap terakhir adalah pembuatan jambul ti’ilangga yang terdiri dari Sembilan tingkat dan pada setiap tingkat terdapat dua lekukan dan diperkuat oleh sebuah lidi yang diikat pada jambul dan dibentang ke belakang secara lurus hingga bagian belakang badan ti’ilangga.

Sebagai ikon masyarakat, ti’ilangga memiliki filosofi hidup bagi masyarakat Rote Ndao yang diungkapkan dalam setiap bagiannya. Cirikhas dari ti’ilangga adalah terdapat jambul yang memiliki tinggi 40 sampai 60 cm. Jambul tersebut terdiri atas 9 tingkat dan setiap tingkat terdapat 2 lekukan. Jumlah setiap lekukan jambul adalah 18 lekukan yang melambangkan jumlah kerajaan atau nusak yang ada di pulau Rote.Ke-18 lekukan pada jambul dibelah oleh satu garis lurus yang melambangkankeseimbangan.Padabagianatasbadanti’ilanggaterdapatsebuahgarislurus yang berfungsi memperkuat jambul diikat sampai bagian belakang melambangkan pemerataan. Pada setiap pinggir ti’ilangga terdapat banyak ujung daun yang tersusun dengan rapi dan disatukan oleh tiga lingkaran. Ujung-ujung daun tersebut menggambarkan masyarakat Rote yang disatukan dalam suatu struktur pemerintahan yang kuat. Kekuatan system tersebut ditandai dengan melingkarnya dua garis pada setiap lingkaran untuk pempererat ujung ujung daun yang tersusun pada pinggir ti’ilangga. Bagian dalam ti’ilangga terdapat lipatan pada pagian kiri dan kanan yang berfungsi sebagai tempat persembunyian benda-benda berharga seperti uang, emas, tembakau, dan lain-lainnya. Selain itu, terdapat bagian pet ti’ilangga pada bagian depat yang berfungsi sebagai penghormatan kepada setiap orang yang ditemui dan tali pengikat yang berfungsi mempererat ti’ilangga ketika dipasangkan di atas kepada melambangkan kekuatan dan keberanian. Setiap ti’ilangga dibuat dengan sedemikian rupa untuk melambangkan cirri khas seorang Rote yang berjiwa pemimpin. Secara umum ti’ilangga memiliki makna keperkasaan dan kehormatan seorang laki-laki Rote.Setiap orang yang mengenakan ti’ilangga dapat menonjolkan cirri kepemimpinan yang dapat menyatukan, menghormati, menjaga rahasia, dan melindungi masyarakat Rote.


Disetujui Oleh Mochtar Hidayat Pada Tanggal 15-12-2020

Komunitas Karya Budaya

NDOLU INGGU

Desa Oebou, Kec. Rote Barat Daya, Kab. Rote Ndao

085253106121

nusloblobly@gmail.com

Disetujui Oleh Mochtar Hidayat Pada Tanggal 15-12-2020

Maestro Karya Budaya

Jonas Mooy

Desa Oebou, Kec. Rote Barat Daya, Kab. Rote Ndao

085253106121

Johan Pah

Desa Lalukoen, Kec. Rote Barat Daya, Kab. Rote Ndao - NTT

0

0

Hermanus Pah

Desa Lalukoen, Kec. Rote Barat Daya, Kab. Rote Ndao - NTT

0

0

Disetujui Oleh Mochtar Hidayat Pada Tanggal 15-12-2020
   Disetujui Oleh Mochtar Hidayat Pada Tanggal 15-12-2020

© 2018 Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya


Kontak kami

  • Alamat
    Komplek Kemdikbud Gedung E Lt 10,
    Jln. Jenderal Sudirman Senayan Jakarta, 10270.
  • Email: kemdikbud.wbtb@gmail.com
  • Telp: (021) 5725047, 5725564
  • Fax: (021) 5725047