Prasi

Tahun
2020
Nomor Registrasi
202001188
Domain
Keterampilan dan Kemahiran Kerajinan Tradisional
Provinsi
Bali
Responsive image

            Prasi bisa dikategorikan sebagai sebuah bentuk kerajinan namun kerajinan yang lebih banyak mengarah kepada tradisi, dimana bahan yang digunakan berupa lontar dan memiliki sumber dari ceritera-ceritera klasik pewayangan seperti Ramayana, Mahabrata dan ceritera tradisional rakyat Bali. Prasi ini sangat erat kaitannya dengan naskah kuno atau manuskrip dimana pada masa lampau sebelum adanya kertas sebagai alas menulis para pendahulu kita menggunakan lontar sebagai sarana untuk menulis ceritera, babad, kekawin dan lainnya bahkan seringpula melukis diatas lontar yang sekarang dikenal dengan prasi.  

        Prasi adalah ceritera bergambar atau lazim disebut komik sudah sangat dikenal sebagai bacaan yang menarik karena disertai gambar-gambar yang membuat pembacanya tidak merasa jenuh. Demikian halnya di Kabupaten Karangasem juga sudah ada dibuat komik yang berisikan ceritera-ceritera tradisional yang bersumber dari lontar atau naskah kuno seperti kisah Ramayana, Mahabrata, ceritera tradisional rakyat Bali serta gambar makhluk-makhluk mitologi. Motif yang biasa dikembangkan adalah ceritera-ceritera pewayangan, pelintangan, Ganesa, Garuda, Ramayana, Saraswati, Barong, Legong dan tarian Bali. Komik ini disebut dengan Prasi yang sudah dibuat secara turun temurun.

        Menulis Prasi membutuhkan keahlian yang cukup tinggi karena memakai daun lontar sebagai sarana untuk menulisnya. Secara lengkap bahan-bahan yang diperlukan antara lain :

1.      Ntal (daun lontar)

2.      Pengerupak (alat untuk menulis)

3.      Pemutik

4.      Paser pelubang

5.      Arang

6.      Benang

Bambu

Sebelum sampai pada proses penulisan prasi terlebih dahulu akan dijelaskan mengenai pembuatan bahan berupa blangko lontar dengan beberapa tahapan :

a.       Memilih dan memilah daun lontar

Tahapan ini merupakan tahap yang penting karena kualitas daun lontar akan sangat mempengaruhi hasil. Ada beberapa jenis daun lontar dengan bermacam pemanfaatannya dan yang biasanya dipilih untuk membuat prasi adalah daun lontar yang daunnya halus, agak lentur, bila ditulisi atau digores dengan pangrupak suaranya tidak begitu keras karena daunnya sedikit lebih tipis. Memiliki ukuran daun panjang dan lebar, helai daun luwes dan memiliki serat yang halus, setelah dijemur dan kering warnanya menyerupai kulit telor (taluh).

b.      Proses Pengeringan

Daun lontar yang sudah dipilih, dipotong sesuai ukuran selanjutnya dijemur hingga kering.

c.       Proses merendam dengan air tawar

Setelah kering daun lontar tersebut harus direndam didalam air tawar selama kurang lebih 3 minggu dengan tujuan menghilangkan zat-zat yang bisa merusak hasil. Selama perendaman air akan diganti sebanyak 2-3 kali sampai air rendaman menjadi bening/bersih. Kemudian daun lontar dijemur kembali sampai kering.

d.      Proses perebusan

Proses ini dilakukan adalah untuk menghilangkan klorofi dan sagu yang terkandung dalam daun lontar dan ini dapat menekan kemungkinan terjadi kerusakan maupun perapuhan dari dalam.

e.       Proses Penjepitan dan Pewarnaan

Hal ini dilakukan adalah untuk meluruskan daun lontar yang diproses, bahkan daun lontar sampai mengalami penipisan, menjadi lentur karena dalam prosesnya alat penjepit yang dari kayu tersebut diberikan pasak dan setiap empat/lima hari dipukul-pukul oleh perajin untuk mendapatkan daun lontar yang berkualitas dalam arti luas.

Setelah bahan daun lontar siap dilanjutkan dengan proses pembuatan prasi sebagai berikut :

1.      Teknik Penulisan / Penggambaran

Setelah daun lontar siap digunakan selanjutnya mulai menulis dan menggambar dengan menggunakan alat berupa pengerupak, bagi mereka yang sudah ahli biasanya akan langsung memakai pengerupak untuk menulis dan menggambar sedangkan bagi yang belum ahli biasanya terlebih dahulu akan membuat sket dengan pensil untuk mengurangi kesalahan karena goresan yang salah tidak bisa dihilangkan bahkan harus mengganti lembar lontar yang baru.

2.      Pewarnaan

Selesai penggambaran tokoh maupun penulisan dilanjutkan dengan pewarnaan yang dibuat dari buah kemiri yang dibakar kemudian dihancurkan dan dicampur minyak kelapa. Pewarnaan dilakukan dengan cara memoleskan warna diatas daun lontar.

3.      Finishing

Ini merupakan tahap akhir yakni mulai menyusun lontar-lontar yang sudah selesai menurut posisi halamannya, mengikatkan dengan benang/tali dan uang kepeng serta diberikan bingkai dari bambu dengan ukiran dan ornamen.

Nilai yang terkandung dalam Seni Prasi yakni :

1.      Nilai Budaya

Ø  Nilai Etika/Moral, dimana bentuk cerita yang tertuang dalam daun lontar merupakan pengetahuan bersifat edukasi, karena alur ceritanya banyak merujuk pada ajaran-ajaran agama menyangkut tatakrama sopan santun, sastra-sastra suci, cerita rakyat yang semuanya dalam bentuk pendidikan moral.

Ø  Nilai Magis, dalam pembuatan prasi masih tetap mengedepankan nilai sakral/magis yang terkandung didalamnya yang dimulai sejak awal pembuatan sudah ada proses upacaranya sehingga hasil yang didapat akan memiliki taksu.

2.      Nilai Ekonomi. Seni Prasi pada masa ini berkembang menjadi sebuah karya yang bisa memberikan mata pencaharian bagi para pembuatnya sehingga prasi ini memiliki nilai komersial tinggi, selain itu banyaknya wisatawan asing yang tertarik dengan karya budaya ini menjadikan prasi memiliki nilai ekonomi tinggi.

 

Prasi pada masa kini masih bertahan keberadaannya baik yang dilakukan oleh kelompok maupun perorangan dengan banyaknya ditemukan para pembuat Prasi khususnya yang ada di daerah wisata, seperti Desa Adat Tenganan Pegringsingan, Desa Adat Tenganan Dauh Tukad dan Desa Sidemen. Prasi saat ini dibuat lebih cenderung untuk memenuhi kebutuhan ekonomi atau lebih kepada nilai ekonomi sebagai sebuah mata pencaharian yang bisa menunjang ekonomi kreatif. Jenis Prasi yang dibuat juga menyesuaikan dengan permintaan pasar yakni cenderung pada prasi dengan motif gambar seperti Burung Garuda, Pulau Bali, Penari, Dewi Saraswati, Ganesa, dan Barong. Bahkan prasi menjadi salah satu oleh-oleh khas yang bisa ditemukan di Kabupaten Karangasem. Bagi para pelaku kerajinan ini prasi sangat menjanjikan karena tingginya minat wisatawan terhadap prasi.      


Disetujui Oleh Mochtar Hidayat Pada Tanggal 15-12-2020

Komunitas Karya Budaya

Dinas Kebudayaan Kabupaten Karangasem

Jalan Kapten Jaya Tirta, Gedung Civic Centre Unit 11 lantai II, Amlapura

036321196

disbudkarangasem@gmail.com

Disetujui Oleh Mochtar Hidayat Pada Tanggal 15-12-2020

Maestro Karya Budaya

Ida Bagus Ngurah

Dusun Wanasari, Desa Talibeng, Kecamatan Sidemen Kab. Karangasem

0

-

Ida Bagus Jelantik Purwa

Dusun Punia, Desa Sinduwati, Desa dan Kecamatan Sidemen, Kabupaten Karangasem

0

-

Ida I Dewa Gede Catra

Jalan Untung Surapati, Amlapura

0

-

Disetujui Oleh Mochtar Hidayat Pada Tanggal 15-12-2020
   Disetujui Oleh Mochtar Hidayat Pada Tanggal 15-12-2020

© 2018 Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya


Kontak kami

  • Alamat
    Komplek Kemdikbud Gedung E Lt 10,
    Jln. Jenderal Sudirman Senayan Jakarta, 10270.
  • Email: kemdikbud.wbtb@gmail.com
  • Telp: (021) 5725047, 5725564
  • Fax: (021) 5725047