Rengkong

Tahun
2021
Nomor Registrasi
202101251
Domain
Seni Pertunjukan
Provinsi
Jawa Barat
Responsive image

  Rengkong merupakan salah satu kesenian tradisional yang diwariskan oleh leluhur masyarakat Sunda. Nama rengkong diambil dari salah satu alat tradisional terbuat dari bambu yang biasa digunakan masyarakat agraris tradisional Sunda untuk memikul padi dari lantayan atau tempat penjemuran padi secara tradisional di huma atau sawah menuju ke leuit atau lumbung padi di perkampungan atau leuit desa.(Dinda S.U. Budi, 2015). Salah satu tulisan yang menyebutkan nama rengkong terdapat dalam buku terbitan tahun 1929 karya Hoesen Djajadiningrat dkk berjudul Tidjschrift Van Het Java-Instituut (1929: XI,XX). Penamaan rengkong dimungkinkan berasal dari bunyi yang dihasilkan dari gesekan tali yang dibuat dari ijuk yang terdapat pada alat pikul. Dalam istilah masyarakat Kasepuhan Ciptagelar disebut tali idi disebut dengan Ajug.  Apabila berbicara masalah rengkong akan didapati dua bentuk, yaitu rengkong alat pemikul padi dan juga nama kesenian rengkong itu sendiri.

SEJARAH

Untuk melacak asal usul rengkong memiliki kesulitan dalam memperoleh datanya. Data yang dapat diperoleh dapat dipastikan hanya berupa informasi-informasi lisan, karena tidak artefak yang pernah ditemukan. Namun dari informasi lisan tersebut dapat disimpulkan, bahwa rengkong adalah salah satu peninggalan dari budaya huma, sebelum busaya sawah masuk ke wilayah budaya Sunda. Aki Karma (2014) salah seorang kepercayaan Sesepuh Kasepuhan Adat Ciptagelar menjelaskan bahwa, sejak zaman para karuhunnya (nenek moyang) penggunaan rengkong akan selalu dipasangkan dengan angklung. Apabila dikaitkan dengan ‘kepercayaan’Sunda lama. Baik rengkong maupun angklung akan selalu dihubungkan dengan Nyai Pohaci atau Nyai Sri (Dewi Padi). Menurut kepercayaannya, bunyi yang dihasilkan dari rengkong dan angklung sangat disukai oleh Nyai Sri.

Dalam masyarakat agraris tradisional Sunda, padi merupakan sumber kehidupan manusia yang dilambang sebagai jelmaan Nyi Pohaci atau Dewi Sri, oleh karena itu padi harus diperlakukan secara khusus dan istimewa.  Dalam penanganan mulai dari proses pembibitan hingga panen, perlakuan terhadap padi kerap diwarnai dengan upacara atau ritual. Salam satu perlakuan khususnya adalah dalam upacara proses membawa padi. Padi harus dipikul mempergunakan alat khusus yang diberi nama rengkong.  Prosesi upacara mengangkut padi ini dinamakan upacara Ngunjal. Dalam pelaksanaannya, ngunjal diawali dengan selamatan dan doa bersama kemudian dilanjutkan dengan tampilan kesenian angklung dogdog lojor dan rengkong (Eva, 2017: 250).

WADITRA

Bahan utama dalam pembuatan rengkong dipilih dari jenis bambu gombong (Gigantochloa verticillata) utuh, kering, dan memiliki diameter lingkaran sekitar 30 cm untuk kemudian dipotong 4 ruas atau sepanjang 1,5 - 3 meter. Khusus dua ruas pada bagian ujung harus berlubang karena merupakan bagian dari sumber suara. Dua ruas di bagian tengah juga masing-masing dilubangi berbentuk persegi panjang. Tepat di tengah dua lubang persegi panjang dikalungkan dua utas tali ijuk yang dua ujungnya telah terikat masing-masing seikat padi. Dengan demikian, jumlah padi yang dipikul berjumlah 4 ikat dengan berat sekitar 10-25 kg. Panjang tali ijuk diukur agar letak padi yang menggantung dapat sejajar dengan lutut pemikul. Cara memainkan rengkong adalah dengan menggoyang rengkong kekiri dan kekanan. Bagian bambu yang bergesekan dengan tali ijuk diberi minyak tanah agar suara yang dihasilkan menjadi lebih nyaring. Diperlukan keserasian bunyi antara rengkong sehingga menimbulkan dinamika irama yang merdu.

NILAI dan MAKNA

Dalam perkembangannya, rengkong menjadi sebuah atraksi pertunjukan menarik yang dimainkan baik tanpa ataupun dipadukan dengan waditra lainnya. Di Kampung Sindangbarang Kabupaten Bogor, suara Rengkong dipadukan dengan waditra Hatong sehingga dinamakan Rengkong Hatong. Menurut Dyah (2017: 28). Apabila dikaji secara teliti, dalam pertunjukan rengkong ini tidak hanya mengandung nilai estetika saja, tetapi ada nilai-nilai lainnya yang pada gilirannya dapat dijadikan sebagai acuan dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai itu antara lain adalah kerja keras dan kerjasama. Nilai kerja keras tercermin dalam membunyikan suara khas yang dihasilkan dari gesekan antara tali ijuk dan pikulan.

Apabila dikaji secara teliti, dalam pertunjukan rengkong ini tidak hanya mengandung nilai estetika saja, tetapi ada nilai-nilai lainnya yang pada gilirannya dapat dijadikan sebagai acuan dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai itu antara lain adalah kerja keras dan kerjasama. Nilai kerja keras tercermin dalam membunyikan suara khas yang dihasilkan dari gesekan antara tali ijuk dan pikulan. Ini artinya, padi dengan berat tertentu dipikul. Dan, ini tentunya memerlukan kerja keras. Kemudian, nilai kerja sama tercermin dalam pementasan. Dalam hal ini tanpa kerja sama yang baik mustahil pementasan dapat berjalan dengan baik dan lancar.

Merujuk pada teori 3 fungsi seni pertunjukan R.M. Soedarsono (2002:123),  yaitu: (1) sebagai sarana ritual, (2) sebagai sara hiburan, dan (3) sebagai presentasi estetis. Fungsi pertunjukan rengkong hanya memiliki 2 fungsi, saja, yaitu sebagai sarana ritual dan hiburan saja. Apabila dilihat dari fungsi aslinya, rengkong berfungsi sebagai sarana ritual, khususnya upacara ritual ngaseuk, tetapi apabila dilihat dari fungsi hiburan, garap pertunjukan rengkong tidak terlalu banyak diolahan. Kehadiran rengkong baru dianggap sebagai pendukung untuk memeriahkan moment kegiatan saja. Hal ini dapat dilihat dari data beberapa kegiatan peresmian event program pemerintah daerah, juga pemecahan rekor muri. Sedangkan keterlibatan rengkong sebagai sarana presentasi estetis, konsep garap belum banyak diolah oleh para kreator atau komposer. Rengkong sudah sering dilibatkan dalam berbagai acara pembukaan festival, terutama festival masyarakat adat di Jawa Barat, bahkan sejak Kasepuhan masih berlokasi di Ciptarasa. Pertunjukan Rengkong biasanya diiringi oleh pertunjukan angklung dogdog lojor. 

Pertunjukan rengkong ritual biasanya dimulai dengan tahap pembukaan sebagai persiapan yang diisi dengan tahap menghaturkan permohonan doa, tahap selanjutnya adalah tahap pelaksanaan ngunjal padi mempergunakan rengkong yang diikuti oleh rombongan angklung. Sebagai penutup, setelah sampai di lokasi, padi-padi diurus secara adat, dilanjutkan dengan syukuran yang dilanjutkan dengan makan bersama.

Apabila dilihat dari segi fungsi sebagai sarana ritual, rengkong hanya dipertunjukan dari lokasi lantayan di huma atau sawah menuju kampung untuk selanjutnya padi yang dikunjal dimasukan ke dalam leuit. Dalam perkembangan selanjutnya ruang pertunjukan rengkong sudah ada yang mengunakan panggung prosenium, halaman balai pemerintahan, bahkan jalan diperkotaan yang dijadikan lokasi kegiatan budaya.


Disetujui Oleh Ronggo Utomo Hardyanto Pada Tanggal 18-01-2022

Komunitas Karya Budaya

Abah Asep Nugraha Kasepuhan Sinarresmi, Desa Sirnaresmi, Kec. Cisolok, Kabupaten Sukabumi

Kasepuhan Sinarresmi, Desa Sirnaresmi, Kec. Cisolok, Kabupaten Sukabumi

0

Abah Ugi Sugria Rakasiwi Kasepuhan Ciptagelar, Desa Sirnaresmi, Kec. Cisolok, Kabupaten Sukabumi

Kasepuhan Ciptagelar, Desa Sirnaresmi, Kec. Cisolok, Kabupaten Sukabumi

081911747789

Disetujui Oleh Ronggo Utomo Hardyanto Pada Tanggal 18-01-2022

Maestro Karya Budaya

Aki Dai (Darja)

Kasepuhan Ciptagelar, Desa Sirnaresmi, Kec. Cisolok, Kabupaten Sukabumi

0

Disetujui Oleh Ronggo Utomo Hardyanto Pada Tanggal 18-01-2022
   Disetujui Oleh Ronggo Utomo Hardyanto Pada Tanggal 18-01-2022

© 2018 Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya


Kontak kami

  • Alamat
    Komplek Kemdikbud Gedung E Lt 10,
    Jln. Jenderal Sudirman Senayan Jakarta, 10270.
  • Email: kemdikbud.wbtb@gmail.com
  • Telp: (021) 5725047, 5725564
  • Fax: (021) 5725047