Akonipuk

Tahun
2018
Nomor Registrasi
201800817
Domain
Pengetahuan dan Kebiasaan Perilaku Mengenai Alam dan Semesta
Provinsi
Papua
Responsive image
Mumi adalah sebuah mayat yang diawetkan, dikarenakan perlindungan dari dekomposisi oleh cara alami atau buatan, sehingga bentuk awalnya tetap terjaga. Ini dapat dicapai dengan menaruh tubuh tersebut di tempat yang sangat kering atau sangat dingin, atau ketiadaan oksigen, atau penggunaan bahan kimiawi. Seperti kita ketahui bahwa Mumi hampir terdapat di seluruh benua di dunia, baik itu di Amerika, Afrika, Eropa, Asia bahkan Pasifik, walapun Mumi yang lebih terkenal berasal dari Mesir. Di Indonesia sendiri saat ini Mumi yang di ketahui terdapat pada 2 wilayah yaitu Mumi Kaki More di NTT dan Mumi Suku Hubula di Papua. Di negara tetangga kita Papua New Guinea (PNG) juga terdapat Mumi yaitu Mumi yang berasal dari suku Angga di Aseki PNG. Berdasarkan data yang ada sejak masa ekspedisi awal, masa Misionaris, masa pemerintahan Belanda sampai saat ini, di ketahui bahwa di seluruh Lembah Balim terdapat tujuh (7) Mumi, yang tersebar di beberapa tempat atau wilayah. Mumi dalam bahasa Hubula disebut “Akonipuk”, yang memiliki arti “Manusia Yang Dikeringkan”. . Dari ke 7 Mumi yang berada di Lembah Balim tersebut hanya 5 yang sudah di ketahui nama dan lokasinya, sedangkan yang 2 Mumi lagi sampai saat ini belum di ketahui nama dan dimana lokasi atau tempatnya berada. Menurut tokoh masyarakat dan pemerintah daerah bahwa kedua Mumi yang belum di ketahui nama dan lokasinya disebabkan oleh karena kedua Mumi tersebut masih di sembunyikan atau di jaga kerahasiaan lokasi dan namanya Nilai-nilai yang terkandung pada mumi sendiri pertama adalah nilai religi. Hal ini disebabkan karena sesuai dengan fungsi di buatnya seseorang yang sangat di hormati seperti panglima perang dan kepala suku menjadi Mumi atau jenasah yang di awetkan / di keringkan (akonipuk) berhubungan erat dengan kepercayaan / religi mereka. Kepercayaan atau religi tradisi suku Hubula masuk dalam kategori kepercayaan animisme. Dimana berdasarkan pengertiannya animisme berasal dari bahasa latin yaitu “Anima” yang berarti “Roh”.Kepercayaan animisme adalah suatu kepercayaan bahwa segala sesuatu yang ada dibumi baik itu mahluk hidup ataupun benda mati mempunyai roh. Kepercayaan animisme mempercayai bahwa setiap benda di Bumi ini (seperti kawasan tertentu, gunung, laut, sungai, gua, pohon dan batu besar) memiliki jiwa yang harus dihormati agar tidak mengganggu manusia, tetapi malah membantu kehidupan mereka. Selain nilai religi, Mumi atau Akonipuk bagi suku Hubula di lembah Balim memiliki nilai sejarah. Dimana sesuai dengan sejarahnya bahwa ke empat Mumi yang berada di lembah Balim adalah para kepala suku atau kepala perang yang pada masa hidupnya sangat terkenal karena memiliki kemampuan khusus baik secara individu maupun yang di peroleh dari roh-roh nenek moyang mereka melalui jimat dan magic lainnya. Nilai sosial, di katakan memiliki nilai sosial sebab para tokoh yang di jadikan sebagai mumi adalah seorang kepala perang atau kepala suku atau ap kain. Seorang kepala suku tidak hanya memiliki masyarakat dikampungnya saja tetapi juga menjalin hubungan dengan kampung-kampung lain bahkan suku lain. Oleh karena itu ketika ia meninggal para kerabat satu klen, satu kelompok kekerabatan bahkan kenfederasinya ikut datang dan menyampaikan rasa duka cita. Sehingga ketika tokoh tersebut di mumikan maka ia hadir sebagai penyatu bagi mereka semua. Selain itu Bagi mereka mumi tidak hanya sebagai warisan budaya masa lalu kepada generasi yang saat ini dan yang akan datang, melainkan mumi adalah sebagai simbol keberanian, kekuatan, kepahlawanan dan kepemimpinan. Berdasarkan hasil wawancara dengan keturunan dan penjaga Mumi WerupakElusak di kampung Aikima saat ini, tentang bagaimana cara mengawetkan jenazah WerupakElusak. Menurutnya tidak banyak informasi yang dapat diperoleh dari penjelasan para pendahulu mereka hanya beberapa saja karena bersifat rahasia, sebab pada umumya yang di ceritakan kepada mereka keturunannya adalah kisah keperkasaan WerupakElusak ketika ia hidup di masa lalu sebagai seorang panglima perang yang gagah berani. Informasi yang diperoleh dari penjelasan pendahulu mereka terutama keturunan dan penjaga mumi WerupakElusak ketika WerupakElusak Meninggal cara mengawetkannya tidak jauh berbeda dengan mumi lain di lembah Balim yaitu melalui pengasapan. Bahan-bahan atau ramuan yang digunakan tidak diberitahukan karena bersifat rahasia namun salah satu alat yang digunakan adalah sege (tombak kecil), pisau tulang dan kayu akasia hutan (wip) yang banyak sebagai bahan yang akan di bakar untuk mengasapi WerupakElusak. Ketika WerupakElusak terluka parah di medan perang dan di bawa pulang ke kampung, kemudian ia meninggal di dalam honai laki-laki maka proses mengawetkannyapun dilakukan di dalam sebuah honai laki-laki khusus yang telah dipersiapkan sebelumnya dan proses tersebut tidak boleh dilihat oleh perempuan serta anak-anak kecil. Berdasarkan informasi dari pendahulu mereka bahwa mula-mula mereka melakukan upacara terlebih dahulu sebelum jenazah WerupakElusak membeku atau keras (1-3 jam) lalu mereka mengikat tubuhnya dalam posisi seperti sedang jongkok pada kayu yang telah dipersiapkan sebelumnya. Maksud dari mengikatnya pada beberapa kayu dengan posisi jongkok agar mereka dengan mudah dapat mengeluarkan isi perutnya serta darahnya. Untuk mengeluarkan darah dengan pisau tulang mereka mengiris bagian sendi-sendinya seperti siku, paha dan bagian ketiak. Setelah itu dengan sege atau tombak kecil mereka mengeluarkan isi perutnya melalui lubang duburnya (pantat). Setelah semua hal tersebut dilakukan barulah mereka kemudian meletakkan jenasah tersebut diatas bara api dari kayu akasia hutan (wip) beserta beberapa tanaman obat lainnya yang telah dipersiapkan sebelumnya. Proses pemanasan dan pengasapan terhadap WerupakElusak berdasarkan informasi dilakukan setiap hari selama 3 bulan, hal ini dimaksudkan agar lemak di dalam tubuhnya dapat keluar semua sampai jenasahnya kering. Menurut masyarakat dahulu ketika nenek moyang mereka mengawetkan jenazahnya WerupakElusak selama 3 bulan tersebut para lelaki yang terlibat dalam proses itu tidak keluar dari rumah khusus tersebut, tidak boleh mandi atau terkena air karena di percaya akan merusak tubuhnya WerupakElusak. Sedangkan untuk makan mereka setiap hari selama 3 bulan tersebut hanya boleh di buat oleh para istri mereka dan nanti yang mengantarnya kedalam rumah khusus tersebut juga hanya laki-laki yang telah di pilih. Semua aturan dan larangan tersebut harus di taati oleh mereka kalau mereka melanggarnya maka dengan sendirinya jenazah WerupakElusak yang mau di awetkan menjadi mumi akan rusak. Setelah jenasahWerupakElusak telah kering atau menjadi mumi maka iapun di keluarkan dari honaidimana ia telah di awetkan sebelumnya, dengan suatu upacara besar yang dihadiri oleh keluarganya tidak hanya dari kampung Aikima tetapi juga dari beberapa kampung lainnya yang memiliki hubungan kekerabatan dan perkawinan dengannya. Kemudian mumi WerupakElusak di masukkan ke dalam honai laki-laki di kampung Aikima dan hal tersebutpun terus berlangsung sampai saat ini. Sedangkan untuk menjaga agar jenazah dari WerupakElusak yang telah diawetkan dari kerusakan menurut penjaga Mumi tersebut sejak dahulu sampai saat ini yang dilakukan oleh mereka yaitu setiap pagi harus dikeluarkan untuk di jemur di sinar matahari pada pagi jam 07.00 – 10.00 WIT, kemudian menggosokkan minyak dari lemak babi ketubuhnya setiap 2 /3 hari sekali. Setelah itu mumi WerupakElusak di masukkan kembali ke dalam honai laki-laki dan diletakkan di bagian atas atau lantai 2 dalam rumah tersebut. Posisinya di lantai atas juga berada di bagian tengah karena di bawahnya lantai 1 atau dasar honai terdapat tungku api yang selalu menyala dan senantiasa memanaskannya juga mereka yang tidur di bagian atas honai tersebut.

Disetujui Oleh admin WBTB Pada Tanggal 01-01-2018

Komunitas Karya Budaya

Disetujui Oleh admin WBTB Pada Tanggal 01-01-2018

Maestro Karya Budaya

Disetujui Oleh admin WBTB Pada Tanggal 01-01-2018
   Disetujui Oleh admin WBTB Pada Tanggal 01-01-2018

© 2018 Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya


Kontak kami

  • Alamat
    Komplek Kemdikbud Gedung E Lt 10,
    Jln. Jenderal Sudirman Senayan Jakarta, 10270.
  • Email: kemdikbud.wbtb@gmail.com
  • Telp: (021) 5725047, 5725564
  • Fax: (021) 5725047