Rumah Rakit Palembang

Tahun
2010
Nomor. Registrasi
2010000518
Domain
Keterampilan dan Kemahiran Kerajinan Tradisional
Provinsi
Sumatra Selatan
Responsive image
Sungai Musi merupakan urat nadi kota Palembang, Sumatera Selatan, Indonesia. Dalam catatan Belanda, pada awal abad ke 19, kota ini disebut "Venesia Dari Timur" atau kota air, karena lebih dari 100 sungai dan anak sungai mengalir di dalam kota ini. Menurut data statistik kota Palembang, seluas 52,24 persen kawasan ini merupakan perairan. Dengan kondisi alam yang demikian, masyarakat banyak memanfaat angkutan sungai sebagai alat transportasi baik di dalam kota maupun untuk berhubungan dengan daerah lain Banyaknya sungai tidak saja berpengaruh terhadap alat transportasinya, tetapi juga pada arsitektur bangunan untuk tempat tinggal para penduduk. Pemilihan lokasi untuk tempat tinggal, misalnya, biasanya mempertimbangkan beberapa faktor diantaranya kedekatan dengan sumber mata air, sumber makanan, dan lokasi mata pencahariannya. Bagi masyarakat Palembang, keberadaan sungai-sungai berfungsi sebagai sumber makanan, mata pencaharian, dan terutama sumber air. Dalam arsitektur yang mempunyai konsep built environment, bangunan selalu dipengaruhi oleh kondisi lingkungannya. Dengan kata lain, kondisi alam secara langsung akan mempengaruhi perilaku manusia termasuk dalam merancang bentuk arsitektur rumahnya. Rumah rakit adalah bentuk rumah yang tertua di kota Palebang dan mungkin telah ada pada zaman Kerajaan Srwijaya. Rumah rakit juga menjadi ciri khas masyarakat yang hidup di sungai sebagai tempat tinggal menetap terapung yang pertama dikenal oleh masyarakat Komering. Rumah tersebut didirikan diatas rakit, baik rakit yang terbuat dari bambu mapun yang terbuat dari balok-balok kayu dengan atap nipah, sirap, dan belakangan ini menggunakan seng serta mengapung di sepanjang badan sungai. Letak rumah yang berada pada badan sungai ini bisa dipahami karena kehidupan masyarakat yang tidak pernah terlepas dari sungai. Pintu pada rumah rakit bisanya ada dua, satu menghadap ke sungai dan yang satunya lagi menghadap ke daratan. Jendelanya, biasanya, berada pada sisi kiri dan kanan dinding rumah Rakit, tetapi ada juga yang berada di sisi kanan dan kiri pintu masuk rumah. Rumah Rakit bukan sekadar hunian darurat. Sejumlah rumah Rakit merupakan warisan lintas generasi yang tahan dihuni puluhan tahun, meskipun bambu yang mendasari Rakit dan tiang penambat perlu diganti secara periodik. Agar bangunan rumah Rakit tidak berpindah-pindah tempat, keempat sudutnya dipasang tiang yang kokoh. Ada kalanya untuk memperkokoh posisi dari rumah Rakit, bangunan diikat dengan menggunakan tali besar yang terbuat dari rotan dan diikatkan pada sebuah tonggak kokoh yang ada di tebing sungai. Keberadaan tali tersebut sebagai antisipasi jika tonggak pada keempat pojok rumah Rakit rusak atau lapuk. Bahan-bahan yang digunakan untuk membangun rumah rakit diantaranya: * Bambu. Bahan utama pembuatan rumah Rakit adalah Bambu. Bambu yang digunakan adalah bambu jenis manyan. Bambu ini di samping tahan lama juga besar-besar sehingga cukup bagus digunakan sebagai bahan dinding dan sebagai pelampung agar bisa mengambang di atas permukaan air. * Balok kayu. Selain mengunakan bambu, adakalanya pelampung menggunakan balok kayu. * Papan. Untuk membuat dinding rumah Rakit, selain menggunakan bambu, juga sering menggunakan papan. * Ulit Yaitu sejenis daun yang dianyam. Bahan ini digunakan untuk membuat atap rumah Rakit. * Rotan. Rotan yang digunakan ada dua macam, yaitu rotan selinep dan rotan sago. Rotan selinep adalah rotan kecil yang digunakan untuk mengikat bagian atas rumah Rakit, sedangkan rotan sago adalah rotan yang digunakan untuk mengikat bambu-bambu yang digunakan sebagai bahan pelampung. Tempat mendirikan rumah Rakit adalah daerah aliran sungai, oleh karena itu penentuan tempat tergantung pada ada tidaknya perairan yang masih bisa digunakan sebagai tempat untuk mendirikan bangunan. Arah rumah Rakit pada awalnya menghadap ke daratan tetapi saat ini, misalnya, karena pertimbangan pariwisata, telah dirubah mengadap ke tengah sungai. Dengan kata lain, rumah-rumah Rakit yang ada pada saat ini umumnya dibangun menghadap ke tengah sungai. Pendirian rumah Rakit secara garis besar terdiri dari tiga tahap, yaitu: pembangunan bagian bawah, bagian tengah, dan bagian atas. Adapun proses pembuatannya sebagai berikut: ? Bagian Bawah Bagian bawah dari rumah Rakit merupakan bagian terpenting. Bagian ini, menentukan kokoh tidaknya rumah Rakit. Oleh karena itu, pembangunan bagian bawah rumah Rakit dilakukan secara cermat, mulai dari pemilihan bahan (bambu-bambu) sampai pada proses merangkai bahan-bahan tersebut menjadi pelampung. Setelah pembuatan bagian bawah Rumah Rakit selesai, yang ditandai dengan keberadaan lanting, maka proses selanjutnya adalah pemasangan sako. Sako ditegakkan di atas alang yang berada pada bagian atas lanting. Namun sebelum ditegakkan, sako terlebih dahulu diberi putting dan dilanjutkan dengan pemasangan alang pajang, pemasangan jenang, pemasangan sento-sento, pemasangan dindung rakit dari bambu yang telah dicacah, serta pemasangan pintu dan jendela dan ruangan dapur. Tahap selanjutnya sebagai tahap akhir adalah pembangunan bagian atas yang ditandai dengan pemasangan alang panjang, kasau, dan atap. Secara garis besar, rumah Rakit dapat dibagi menjadi dua bagian saja, yaitu untuk tempat tidur dan untuk kegiatan sehari-hari. Pada bagian untuk kegiatan sehari-hari, biasanya juga digunakan sebagai tempat menerima tamu. Dapur, jika berada dalam satu bangunan, biasanya berada di sisi luar ruang tidur. Tetapi terkadang ruangan untuk dapur dibangun terpisah. Rumah Rakit pada dasarnya tidak mempunyai hiasan-hiasan, hanya saja pada rumah Rakit modern dihiasi ukiran timbul khas Palembang (berupa stilisasi daun dan kembang) dengan warna merah hati dan emas yang mencolok. Oleh karena perubahan pola pikir manusia dan keterbatasan bahan-bahan untuk membuat rumah Rakit, jumlah rumah Rakit semakin hari semakin sedikit. Kondisi ini diperparah oleh munculnya anggapan bahwa keberadaan rumah Rakit membuat kumuh pemandangan sungai. Selain itu, rumah Rakit juga dianggap sebagai sumber pencemaran sungai karena penghuninya membuang sampah dan kotoran langsung ke sungai. Adanya pendapat bahwa rumah Rakit merupakan simbol kekumuhan dan sumber pencemaran tidak jarang menjadi alasan untuk menggusur keberadaan rumah Rakit.

Disetujui Oleh admin WBTB Pada Tanggal 01-01-2010

Pelaku Pencatatan

Drs. A. Rahman Ahmat

Kelurahan Sukadana

?

?

?

?

?

?

?

?

?

?

Pelapor Karya Budaya

Masyarakat Kayu Agung

Sumatera Selatan

?

?

Disetujui Oleh admin WBTB Pada Tanggal 01-01-2010
Disetujui Oleh admin WBTB Pada Tanggal 01-01-2010
   Disetujui Oleh admin WBTB Pada Tanggal 01-01-2010

© 2018 Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya


Kontak kami

  • Alamat
    Komplek Kemdikbud Gedung E Lt 10,
    Jln. Jenderal Sudirman Senayan Jakarta, 10270.
  • Email: kemdikbud.wbtb@gmail.com
  • Telp: (021) 5725047, 5725564
  • Fax: (021) 5725047