Beksani Bambangan Cakil Surakarta

Tahun
2021
Nomor Registrasi
202101470
Domain
Seni Pertunjukan
Provinsi
Jawa Tengah
Responsive image

BEKSAN BAMBANGAN CAKIL

Beksan Bambangan Cakil di Pura Mangkunegaran merupakan yasan nDalem K.G.P.A.A. Mangkunegara V (1881-1896) berbentuk wireng. Karya tari ini menggambarkan peperangan antara Bambangan melawan Denawa Cakil. Tokoh Bambangan dalam karya tari ini menunjuk pada Raden Arjuna atau putranya. Tokoh Bambangan yang sering ditampilkan di Pura Mangkunegaran adalah Raden Angkawijaya (Abimanyu) dan Raden Bambang Irawan. Inspirasi dalam penciptaan Beksan Wireng Bambangan Cakil adalah segmen Perang Kembang dalam pertunjukan Wayang Orang. Namun demikian, terdapat perbedaan dalam gaya penyajiannya. Beksan Wireng Bambangan Cakil hanya menampilkan satu tokoh denawa, sedangkan dalam Perang Kembang terdapat beberapa denawa. Selain itu, apabila dalam pertunjukan Perang Kembang tersebut menampilkan tokoh Raden Angkawijaya (Raden Abimanyu) maka sering pula disertai dengan tokoh Raden Gathutkaca. Terdapat karya tari yang memiliki kemiripan dengan Beksan Wireng Bambangan Cakil. Karya tari itu berkembang di luar Pura Mangkunegaran yang sering disebut sebagai Beksan Bambangan Cakil atau Tari Bambangan Cakil. Ide serta tema dari kedua karya tari tersebut memiliki kesamaan, yaitu menggambarkan peperangan antara tokoh Bambangan melawan Denawa Cakil  atau Buta Cakil yang terinspirasi dari adegan Perang Kembang dalam pertunjukan Wayang Orang. Perbedaan signifikan terdapat pada teknik penyajian yang dapat diamati dari struktur sajian, pola gerak, dan musik tari/ iringan tari.

Beksan Bambangan Cakil di Pura Mangkunegaran tergolong dalam genre wireng, sedangkan orientasi dari teknik penyajian Tari Bambangan Cakil adalah fragmen. Hal ini tentunya memberikan pengaruh yang cukup signifikan pada pola garap terutama dari struktur sajian.

Pada Beksan Wireng Bambangan Cakil Kedua tokoh (Bambangan dan Cakil) ke luar secara bersamaan dari gawang supana dengan musik tari pathetan, dilanjutkan ada-ada, dan kemudian sampak. Seperti genre beksan wireng pada umumnya.

Pola gerak yang digunakan pada bagian tersebut diantaranya adalah :

1. Kapang-kapang,

2. Besut lenggah jengkeng,

3. Sembahan,

4. Sabetan,

5. Lumaksana, dan

6. Ombak banyu srisig.

7. Setalah itu, para penari menuju gawang pokok untuk menyajikan bagian inti.

 

Berbeda dengan Tari Bambangan Cakil yang berorientasi pada pola garap fragmen. Pada karya tari ini tokoh Bambangan ke luar terlebih dahulu ke tempat pentas yang kemudian disusul tokoh Denawa/Buta Cakil.

Keluarnya tokoh Bambangan pada umumnya menggunakan musik tari :

1. pathetan dan

2. dilanjutkan ketawang.

 

Tokoh Denawa Cakil ke luar dengan musik tari yang beragam diantaranya :

3. Kemuda,

4. Srampat,

5. Embat-embat penjalin,

6. Dst.

Keluarnya kedua tokoh tersebut tidak menerapkan pola gerak  sembahan di gawang supana seperti dalam genre wireng. Konsep tersebut tentunya tidak selaras dengan pandangan dan gagasan dalam mempresentasikan karya tari di istana berkaitan dengan nilai-nilai etis yang dianutnya.

Bagian inti dalam penyajian Beksan Wireng Bambangan Cakil gaya Mangkunegaran dapat dikualifikasi menjadi empat bagian :

· Bagian pertama merupakan bagian pokok dalam Beksan Wireng Bambangan Cakil ini. Pada bagian tersebut kedua penari yang masing-masing memerankan tokoh Bambangan dan Denawa Cakil menari secara bersamaan di gawang pokok.

Musik tari yang digunakan pada bagian tersebut adalah: Ladrang Cluntang dengan garap irama II.

Pola gerak bapang kasatriyan digunakan untuk mengambarkan tokoh Denawa Cakil, sedangkan tokoh Bambangan diungkapkan dengan pola gerak putra alus.

 

· Bagian kedua dalam Beksan Wireng Bambangan Cakil sering pula disebut sebagai bagian ngasak. Pada bagian ini tokoh Denawa Cakil mendominasi dengan menerapkan pola gerak ceklekan. Pola gerak tersebut menjadi karakteristik dalam mempresentasikan tokoh Cakil. Pola gerak itu dapat diidentifikasi dari gerakan lengan yang memiliki titik aksentuasi pada siku sehingga membentuk kesan patah (ceklek). Pola gerak ceklekan ini terinspirasi dari pola gerak lengan tokoh Denawa Cakil dalam pertunjukan Wayang Kulit. Bagian ketiga menjadi titik klimaks dalam penyajian Beksan Wireng Bambangan Cakil

 

· Bagian ketiga menjadi titik klimaks dalam penyajian Beksan Wireng Bambangan Cakil. Pada bagian ini mengungkapkan peperangan dari kedua tokoh.

Musik tari yang digunakan dalam bagian ketiga ini adalah: srepeg dan sampak. Srepeg digunakan pada bagian perang tangkepan (perang tanpa senjata) dan sampak digunakan dibagian perang keris. Akhir dari peperangan tersebut dimenangkan oleh tokoh Bambangan. Namun demikian berbeda dengan teknik penyajian Tari Bambangan Cakil, tokoh Denawa Cakil tidak silam panggung setelah kalah melawan tokoh Bambangan. Denawa Cakil duduk bersila di gawang pokok, sedangkan Bambangan melakukan beberapa pola gerak dengan musik tari Ayak-ayak. Pola gerak tersebut di antaranya adalah ulap-ulap, sabetan, lumaksana, besut, dsb. Bagian ayak-ayak ini menjadi akhir dari bagian inti dalam Beksan Wireng Bambangan Cakil. Beksan Wireng Bambangan Cakil ditutup dengan kedua tokoh menari secara bersamaan dengan pola gerak sembahan, sabetan sririg, dan kemudian besut sririg menuju ke gawang supana. Para penari di gawang supana melakukan pola gerak besut, sembahan sila dan kapang-kapang silam panggung.

Musik tari yang digunakan pada bagian akhir ini adalah: sampak dan pathetan. Teknik penyajian ini menjadi karakteristik dari Beksan Wireng Bambangan Cakil gaya Mangkunegaran.

Tari /Beksan Bambang Cakil adalah tari tradisional dari Surakarta  yang di ambil dari cerita pewayangan.  Bentuk tarinya sendiri disebut sebagai Wireng, karena sifatnya yang tidak menggunakan percakapan dalam tariannya. Penonton akan disuguhkan interaksi antara sang tokoh utama dengan lawannya melalui seni tari yang atraktif saja, tanpa adanya pembicaraan antara tokoh utama dengan musuhnya.

 

Tari Bambangan Cakil adalah tarian tradisional yang di adobsi dari salah satu adegan dalam cerita pewayangan. Adegan yang diadobsi adalah adegan perang kembang, yang menceritakan peperangan antara kesatria dan raksasa/buta. Tarian ini merupakan salah satu tarian klasik yang ada di Jawa khususnya Jawa Tengah.- Kota Surakarta Dalam Tari Bambangan Cakil ini menceritakan peperangan antara kebaikan dan kejahatan. Kedua sifat tersebut di gambarkan dalam gerakan tari tokoh dalam tarian tersebut. Dimana kebaikan yang ada pada tokoh kesatria di gambarkan dengan gerakan yang bersifat halus dan lemah lembut. Sementara kejahatan pada tokoh raksasa di gambarkan dengan gerakan yang bersifat kasar dan beringas. Tokoh dalam pewayangan yang di gunakan dalam tarian ini adalah Arjuna sebagai Kesatria, dan Cakil sebagai raksasa.

 

Tarian ini sendiri menggambarkan adegan peperangan antara seorang ksatria Pandawa, melawan Cakil, yakni seorang tokoh raksasa. Adapun istilah Bambangan sendiri digunakan untuk menyebut para ksatria keluarga Pandawa seperti Arjuna/Janaka, Angkawijaya/Abimanyu, Bambang Irawan dll. Peperangan berakhir dengan tewasnya Cakil, akibat tertusuk kerisnya sendiri.

Tarian ini mengandung nilai filosofi yang tinggi dimana kejahatan dan keangkaramurkaan akan kalah dengan kebaikan. Gerakan dalam Tari Bambangan Cakil ini sangat artistik. Walaupun di adopsi dari cerita pewayangan, tarian tidak di tarikan dengan percakapan. Namun pesan dan cerita dalam tarian ini tetap tersampaikan melalui alur gerakan para penarinya.

Beberapa tokoh kesatria yang termasuk dalam bambangan adalah Irawan, Rama, Pandu, Sumantri, Priyambada, Permadi (Arjuna), Abimanyu, Palasara, dan Laksmana.

Beberapa nama sebutan untuk cakil yaitu Gendring Caluring, Kalapraceka, Klanthangmisis, Ditya Kalamarica, Ditya Gendirpenjalin, dan juga Ditya Janggarisrana.

Untuk lakon kesatria biasanya akan ditarikan oleh seorang penari yang rupawan, mempunyai fisik yang gagah, serta memiliki keluwesan dalam gerak.

Sedangkan untuk lakon raksasa biasanya akan ditarikan oleh penari yang lincah serta atraktif.

Untuk memerankan tokoh dalam Tari Bambangan Cakil ini tentunya ada syarat - syarat tertentu agar tarian terlihat menarik, diantaranya seperti fisik penari, keluwesan dalam menari, dan sifat dari para penari sendiri.

Untuk memerankan tokoh kesatria biasanya harus memiliki fisik yang rupawan dan luwes/ lemah lembut.

Sedangkan untuk memerankan tokoh cakil, dibutuhkan kelincahan dalam menari karena sifatnya yang beringas sehingga membutuhkan gerakan yang lebih. Selain itu penari cakil juga harus luwes, karena gerakan tokoh cakil yang cenderung aktraktif.  Makna filosofis yang dikandung dalam lakon yang dibawakan di kisah tari menarik ini adalah bagaimanapun kebaikan akan menang melawan kejahatan. Oleh karena itu, kita semua sebagai insan manusia haruslah menjauhi perilaku jahat, sebab pada akhirnya kejahatan akan mendatangkan hal buruk pada diri kita sendiri. Ini dilambangkan dengan Cakil yang pada akhirnya tewas di akhir cerita.

 

Dalam pertunjukannya, Tari Bambangan Cakil biasanya tidak hanya di mainkan oleh 2 orang saja. Namun ada beberapa peran pendukung seperti pasukan raksasa dan penari wanita sebagai pasangan kesatria. Peran pendukung tersebut biasanya di mainkan pada awal pertunjukan agar pertunjukan terlihat tidak kaku dan lebih menarik.

Tarian Ini di iringi oleh iringan gending :

1. Srempengan, Ladrang Cluntang Sampak Laras Slendro.

2. Suara kendang dalam pada musik pengiring sangat penting dalam tarian ini. Seperti pada tarian jawa lainya, suara gendang harus di selaraskan dengan gerakan penari dan musik pengiring lainnya.

 

Tari Bambangan Cakil ini diiringi dengan musik tradisional asal Jawa Tengah seperti Ladrang Clunthang, Sampak, Laras Slendro, dan Gending Srepengan.

Ladrang Clunthang sendiri mengisahkan tentang perjalanan Sang Pekik saat turun gunung, dimana menggambarkan bagaimana seorang bambang menghadapi segela bentuk godaan.

Sedangkan Laras Slendro merupakan sebuah sistem urutan nada dalam satu oktaf yang terdiri dari: ji (1), ro (2), lu (3), mo (5), dan nem (6).

Laras Slendro ini biasa dimainkan saat adegan prajurit datang dan perang.

Selain itu, meskipun laras ini dapat menciptakan suasana gembira dan ramai, dalam beberapa waktu laras ini juga dapat menciptakan suasana rindu dan sedih.

Kemudian Gending Srepengan merupakan gamelan pengiring dalam sebuah pertunjukkan wayang serta Sampak yang digunakan untuk mengiringi adegan perang.

 

Busana yang di gunakan para penari biasanya menggunakan busana pada pada wayang uwong (wayang orang), selain itu juga tata rias yang di gunakan juga sama seperti wayang wong. Semua itu di sesuikan dengan tokoh yang di perankan oleh penarinya

Kostum, Aksesoris, dan Properti   :

· Endhong, Garuda Mungkur, Gimbalan, Gumbala, Jarik , Kalung Robyong, Kalung Ulur, Celana , Kelat Bahu, Keris, Praba, Sampur, Simbar Dada, Sumping Uncal.

Tarian yang berasal dari Surakarta Tengah ini, sudah diakui sangat artistik. Ada dua jenis unsur gerak di dalamnya. Penari yang menarikan tokoh ksatria, dalam tarinya mempergunakan ragam tari halus. Sebagai ksatria adalah perwujudan sifat lemah lembut dan kebaikan. Tari Bambangan Cakil semakin dikembangkan dengan cara penambahan penari atau penambahan kreatifitas dalam gerakannya. Tari ini juga ditampilkan pada berbagai acara budaya, baik acara penyambutan tamu kehormatan atau festival budaya karena gerakan tarinya yang begitu artistik dan nilai-nilai di dalamnya yang begitu khas.

Tari Bambangan Cakil ini berfungsi sebagai hiburan masyarakat, khususnya dalam acara budaya atau festival budaya, serta sebagai tari untuk menyambut para tamu penting atau tamu kehormatan.


Disetujui Oleh Nasya Adlina Pada Tanggal 31-01-2022

Komunitas Karya Budaya

Irizal Suryanto

Kusumodiningratan RT 004 RW 005, Keprabon, Kec. Banjarsari Surakarta

081249048208

Rizalsurya06@gmail.com

Nur Diatmoko

Jetis RT 002 RW 005, Kadipirp Kec. Banjarsari Surakarta

08992371021

Diatmoko25@gmail.com

Disetujui Oleh Nasya Adlina Pada Tanggal 31-01-2022

Maestro Karya Budaya

Samsuri, S.Kar, M.Sn (Pengageng Kemantren Langenpraja Pura Mangkunegaran Surakarta) (58)

Pura Mangkunegaran

08122638809

s_samsuri@yahoo.com

Agus Prasetya, S.Sn (Koordinator Wayang Orang Sriwedari ) (48 th)

Mojosongo, Kec. Jebres Surakarta

082243391491

-

Sriyadi, S.Sn, M.Sn ( Penari abdi dalem Kemantren Langenpraja Pura Mangkunegaran Surakarta)

Pura Mangkunegaran

082243391491

-

Disetujui Oleh Nasya Adlina Pada Tanggal 31-01-2022
   Disetujui Oleh Nasya Adlina Pada Tanggal 31-01-2022

© 2018 Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya


Kontak kami

  • Alamat
    Komplek Kemdikbud Gedung E Lt 10,
    Jln. Jenderal Sudirman Senayan Jakarta, 10270.
  • Email: kemdikbud.wbtb@gmail.com
  • Telp: (021) 5725047, 5725564
  • Fax: (021) 5725047